Ternyata saya belum merilis tulisan ini, sepertinya dari 2-3 tahun lalu pas adek uma belum lahir. Alhamdulillah saya bersyukur memutuskan menjadi ibu rumah tangga dan menemani anak-anak saya, sungguh sangat bersyukur atas semua karunia dan rezeki yg selalu dilimpahkan Allah SWT untuk keluarga kecil kami 😊
------------------------------------------------------------------
Sehari kemarin saya bolos kerja karena si unyil sakit. Dari situ saya berpikir saya ingin selalu ada buat dia dikala sakit. Bisa jadi karena saya terlalu cengeng, tapi apalah arti semua nikmat dunia jika orang yg kita sayangi terbaring lemah dan tidak menikmati apa yg kita nikmati.
Saya terlahir dari seorang working mom, ibu saya seorang abdi negara yg bekerja dari pagi hingga sore. Beliau tidak pernah meninggalkan rumah dengan keadaan meja makan kosong. Selalu saja penuh disaat anak-anaknya bangun tidur langsung menyerbu meja makan hanya utk minum teh, bahkan disaat saya SMP dimana saya harus berangkat jam 05.30 demi mengejar bis kota ibu selalu siap dgn masakannya yg lezat. Tidak pernah saya melewatkan sarapan, makan siang, atau makan malam tanpa masakan ibu (kecuali pengen jajan diluar). Bahkan dari kecil sampai kuliah saya sering bawa bekal makan siang dan air minum dari rumah. Beliau selalu dgn sigap bangun jam 03.00 dini hari utk beres2 rumah dan memasak. Ah ibu saya memang yg terbaik...
Ada kala disaat saya duduk di bangku kelas 3 SD, saya sakit demam dan pagi itu saya berharap ibu tidak berangkat kerja utk menemani saya di rumah. Tapi kenyataan berkata lain, karena kewajibannya beliau harus masuk kerja dan saya cukup puas di rumah dgn tetangga saya yg memang bekerja di rumah membantu ibu. Saat itu saya merasa sedih, nelongso kalau orang jawa bilang. Coba kalau ibu saya di rumah...
Saya dan kakak saya, bisa sampai segede ini, bisa kuliah dan sudah membangun rumah tangga sendiri2 tak lepas dari peran ibu bapak saya. Meskipun ibu saya bekerja, bapak saya bekerja dari pagi sampai malam (bapak saya pagi jadi guru sekolah tuna rungu, sore sampai malem harus standby di salon cukur rambut yg beliau rintis dgn sodara2nya dari masa bujang), tidak akan menjadikan mereka orang tua yg gagal dan tidak menjadikan kami anak2 yg gagal kalau boleh dibilang demikian. Sejatinya memang tiap orang tua itu sudah memberikan yg terbaik, tidak ada istilah gagal dalam parenting.
Ibu di rumah atau ibu bekerja, tidak utk dibandingkan karena pasti mereka memberi yg terbaik utk kehidupan anak-anak mereka. Pun dengan saya, mungkin karena saya terlahir dari seorang ibu bekerja, saya tahu rasanya menjadi anak seorang ibu bekerja. Saya tidak ingin anak saya merasakan kesedihan yg saya alami seperti diatas (meskipun itu hanya seper sejuta ewu ewu eket dari bagian hidup saya yg mostly adalah bahagia).
Pun dgn ibu yg tetap ingin bekerja demi kehidupan yg lebih baik utk anak-anaknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar